Geliat Industri Batik Tulis di Wukirsari, Bantul, Yogyakarta

Saat ini, popularitas industry batik di Imogiri memang sudah mulai dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Apalagi, tradisi batik yang sudah ada di wilayah ini telah berjalan cukup lama, kurang lebih sekitar satu abad yang lalu. Tradisi tersebut pun kini telah diwariskan secara turun temurun ke kelompok pengrajin disana, khususnya kelompok perempuan. Di era sekitar 1960-1970 hingga awal 2002 jumlah wisatawan yang berkunjung cukup banyak. Namun, pasca kejadian gempa yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 lalu telah membuat sentra industri yang ada disana kebanyakan mati. Akibatnya, omzet dan pengunjung pun turun secara tajam.

Namun, setelah itu, tujuh tahun pasca gempa itu terjadi, industry batik yang ada di wilayah tersebut kini mulai bangkit. Kebangkitan itu ditandai dengan banyaknya kelompok pengrajin batik perempuan yang turut serta menghidupkannya kembali. Disana, hampir 90 % perempuan yang yang bergerak di sector ini. Perempuan disana pun banyak yang menjadi pengrajin batik dan bergantung hidup pada pesanan batik yang dibeli oleh konsumen. Kebanyakan para pengrajin sendiri terhimpun dalam kelompok-kelompok kecil dengan beraneka nama. Salah satunya ialah industry batik bernama “Berkah Lestari”, kelompok usaha yang diawali oleh kesamaan diri untuk memberdayakan diri dan memberkan penghasilan secara ekonomi, maka dibentuklah kelompok ini.

Hampir sama dengan kelompok bentukan lainya, kelompok ini pun rata-rata memperkerjakan perempuan-perempuan yang tidak memiliki aktivitas lain pasca gempa yang terjadi di bantul. Mereka pun bergerak perlahan untuk memenuhi order yang datang. Untuk masalah penghasilan sendiri, rata-rata mereka menerima penghasilan sebesar Rp 100.000 untuk satu batik tulis yang dihasilkan. Sehingga semakin banyak batik tulis yang dihasilkan, maka pendapatan mereka pun ikut bertambah. Produk utama yang mereka hasilkan pun berupa batik tulis dengan kualitas yang tidak kalah menariknya bila dibandingkan dengan batik-batik terkenal lainnya. Mereka umumnya menggunakan sekitar 30 % pewarna alam dan 70 % untuk pewarna buatan.

Seiring berjalannya waktu, beberapa kelompok pengrajin batik perempuan pun kini sudah mampu menghasilkan omzet besar hingga berkisar 7-10 juta tiap bulannya. Meski begitu, layaknya usaha Kecil dan Menengah lainnya, peran pemerintah tentunya tak bisa dilupakan. Hal ini penting, agar kelompok perempuan yang tergabung dalam UKM-UKM dapat terus bertahan.