{"id":1958,"date":"2013-05-31T09:00:59","date_gmt":"2013-05-31T02:00:59","guid":{"rendered":"http:\/\/www.medogh.com\/blog\/?p=1958"},"modified":"2022-12-28T13:37:19","modified_gmt":"2022-12-28T06:37:19","slug":"motif-kawung-khas-yogyakarta-pun-ada-pada-jaket-batik-medogh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/motif-kawung-khas-yogyakarta-pun-ada-pada-jaket-batik-medogh\/","title":{"rendered":"Motif Kawung khas Yogyakarta pun Ada pada Jaket Batik Medogh"},"content":{"rendered":"<p><a title=\"Mas Syarifudin Tambah Keren dengan Kemeja Batik Pria dan Jaket Batik\" href=\"http:\/\/www.medogh.com\/blog\/artikel-batik\/mas-syarifudin-tambah-keren-dengan-kemeja-batik-pria-dan-jaket-batik\/\"><em><strong>Jaket Batik Pria<\/strong><\/em><\/a> dengan Motif Kawung khas Yogyakarta ada di Medogh. Berbeda dengan biasanya. Jaket batik khas Medogh yang didominasi oleh motif parang, saat ini ada juga yang menggunakan Motif Kawung.<\/p>\n<p>Unsur-unsur titik, garis dan bidang yang berulang dan bersifat abstrak (tidak dapat dikenali sebagai bentuk objek alam) inilah yang menjadikan Motif Kawung disebut sebagai motif Geometri. Motif ini bergambar buah pohon kawung\/aren (buah kolang-kaling). Motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian. Bentuk geometris segi empat pada motif kawung melambangkan suatu ajaran tentang terjadinya kehidupan manusia. Aren sebagai penghasil gula (simbol rasa manis) memiliki filosofi keagungan dan kebijaksanaan. Pohonnya yang lurus tanpa cabang melambangkan keadilan. Karena itu, motif batik kawung memiliki nilai filosofis tentang kekuasaan yang adil dan bijaksana.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1959\" class=\"thumbnail wp-caption aligncenter\" style=\"width: 520px\"><a href=\"http:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/jaket-blazer-merah-JA-0609.jpg\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"size-full wp-image-1959\" title=\"jaket-blazer-merah-JA-0609\" src=\"http:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/jaket-blazer-merah-JA-0609.jpg\" alt=\"\" width=\"520\" height=\"368\" srcset=\"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/jaket-blazer-merah-JA-0609.jpg 520w, https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2013\/05\/jaket-blazer-merah-JA-0609-300x212.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 520px) 100vw, 520px\" \/><\/a><figcaption class=\"caption wp-caption-text\">Jaket batik semi blazer merah motif kawung<\/figcaption><\/figure>\n<p>Zaman dahulu,&nbsp;<a title=\"makna motif batik\" href=\"http:\/\/www.medogh.com\/blog\/artikel-batik\/makna-motif-di-tiap-batik\/\">batik<strong>&nbsp;<\/strong>motif kawung<\/a> dikenakan di kalangan kerajaan. Pejabat kerajaan yang mengenakan&nbsp;batik<strong>&nbsp;<\/strong>motif kawung mencerminkan pribadinya sebagai seorang pemimpin yang mampu mengendalikan hawa nafsu serta menjaga hati nurani agar ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia.<\/p>\n<p>Jaket Batik Medogh yang bermotif Kawung adalah jaket batik JA-0502, jumper batik JM-0606, jaket batik semi blazer JA-0609, dan jaket batik Military JA-1005. Kamu juga bisa memesan jaket batik dengan motif kawung koleksi Medogh kesukaanmu lho.. <img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.batikmedogh.com\/wp-includes\/images\/smilies\/icon_smile.gif\" alt=\":)\"> <a title=\"jaket batik pria medogh\" href=\"http:\/\/medogh.com\/baju-batik-pria\/jaket-batik-pria\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Click here to order.<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jaket Batik Pria dengan Motif Kawung khas Yogyakarta ada di Medogh. Berbeda dengan biasanya. Jaket batik khas Medogh yang didominasi oleh motif parang, saat ini ada juga yang menggunakan Motif Kawung. Unsur-unsur titik, garis dan bidang yang berulang dan bersifat &hellip; <a href=\"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/motif-kawung-khas-yogyakarta-pun-ada-pada-jaket-batik-medogh\/\">Continued<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":1959,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kt_blocks_editor_width":""},"categories":[4],"tags":[385,238,329,352],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1958"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1958"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1958\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3307,"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1958\/revisions\/3307"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1959"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.medogh.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}